Jumat, 23 Agustus 2013

Me-ngintip dulu aahhh...

Taraaa....
Malam ini aku nggak akan mosting cerpen ala anak muda maupun sejenisnya. Aku ingin bernostalgia sedikit bersama gambar-gambar jadul... (kaya dah jadi ne2k aja). hihi
Tapi bener banget, sepertinya lulus baru kemarin tapi terasa udah luaammaaa banget... hemmm.. benarkah karena rindu itu slalu membuat waktu berputar lambat???
langsung aja ya, mari ditenggookk... biar cpet sembuh.. Eit! maksudnya rindunyaa... :)
Yuuk mari diintip.. :D
   
Ngeksis dulu depan basecamp sblum capcus ke jogja ma semarang
Namun, sayang seribu sayang. Banyak foto yg ilang (ga ke backup),, ini hanya sekilas kebersamaan aja yg kebersamaan sepenuhnya telah mengakar di memori... *jiaaaillaaaaahhhh...

Makan malam rame2 itu asyiikk. ini di warung lesehan pinggir jalan rs.Moewardi, jebres, solo
Sekarang udah ga pernah makan bareng lagiii..... :(
Semua udah punya kesibukan, udah punya tujuan, dan masing2 arah hidup yg berbedaa...
ini foto diambil di Pacitan, rumah e PU Dje
Motoran -lbih berduabelas org mpe Pacitan itu rasanya sesuatu banggeett. Di guyur ujan slama perjalanan,,.. tapi terbayar dengan indahnya pantai Klayaarrr... kereen banget.... ombaknya,, biru lautnya,, indah tebingnya,,, semilir lembut sepo anginn.. duuhh.... (foto2nya ga tahu yg bawa siapa -_-)

Berenam, tante pitri, aku, bu desi, dje, anjar, n mupti di pantai Klayar

Kejadian aneh yg ga pernah terlupa adalah suatu mlam baru pulang dari sekre, mtorku kempes. ee... lha kok mtor2 yg lainnya malah pada bcor. terpaksa ditinggal di kmpus semalam suntuk..
berenam. yahh... berenam itu ...  miss u teman...



Yeeyy... narsis habis acara semnas "Alhmdulillah lancar"

Salah satu agenda (EO) yg tak pernah terlupa adalah seminar nasional, selain bazar buku, bedah buku, diskusi public. Kebersamaan, perjuangan, kerja keras, dan tawa renyah kawan2 tak pernah terlupa. Dan rasa capek pun ikut melebur bersama keceriaan... ^,^

Foto diambil ramadhan 2013. buber kecil2an karena personilnya kagak lengkap :(

Seneng kalo ngumpul gini :)) tapi sayangnya kagak lengkaapp... cukup yg masih berkutat di lingkungan solo aja yg bsa hdir. yang lain cukup nitip salam, "wa'alaikum salam..." hehe
ini ni aku, lagi nungguin kawan2 di depan kmpus. (kasiaann...hihi)


Ni perempuan yg tak jago narsis, pendiam, melankolis, tapi romantiss dan bersemangat
Alhamdulillah telah dipertemukan dgn org2 yg baik, hebat, dan sllu smangat
Thanks ya Rabb,, i hope in the future, U still give me a very valuable experience...
Keep smile :))


22.05
Byl, 23 Agsts '13

Rabu, 17 Juli 2013

KERAMAT

     

Hujan deras semalam membuat beberapa pohon yang berada di pinggiran makam roboh.  Tanah merah yang berada di area makam tak mampu menahan bobot pohon yang menjulang tinggi dan rimbun itu. Akar tunggangnya terlihat menganga, keluar dari persembunyiannya, seperti akar-akar monster yang sering terlihat di film-film fiksi.
            “Pakdhe, mbok pohon phon di pinggir makam itu ditebang saja, lumayan bisa buat pemasukan kas desa,” cetus Nandar kepada pakdhenya yang sekaligus menjadi ketua RT desa Kramatrejo.
            “Hush!!! Pohon-pohon tua itu peninggalan simbah Kramat, ora oleh ditebang apalagi dijual!”. Kumis tebalnya menegang. Begitu juga bola matanya membulat penuh.
Makam yang berada di pojok desa Kramatjati itu jarang dijamah orang. Kecuali kalau ada salah satu warga yang meninggal, makam itu baru ada yang memasuki. Tidak seperti makam-makam di desa lain yang terlihat ramai oleh sekawanan bocah yang bermain-main di atas kijing sambil mencari kembang kamboja untuk dijual, menambah pundi-pundi uang jajannya.
            Di tengah makam itu ada gundukan tanah yang tinggi. Oleh penduduk setempat disebutnya kuburane mbah Kramat. Jika panenan penduduk bagus dan melimpah, kuburan mbah Kramat itu akan terlihat tinggi, mencapai dua meteran. Namun, ketika hasil panenan jelek, kuburan itu terlihat rendah seperti kuburan yang lain.
            Pagi ini para pemuda bersiap-siap ingin menebang pohon tua yang roboh itu.  Tapi tiba-tiba di tengah perjalanan menuju makam dihalangi oleh bapak-bapak termasuk pakdhe Marno.
            “Pakdhe, pohone ditebang aja… ben kethok padang!!!” kata Rizal, ketua karang taruna yang tengah siap membawa gergaji dan sabit di kedua tangannya.
            Weh. Ojo!!! biarin gitu aja, lagian juga nggak mengganggu kalian to?”
            “Aaahh… Pakdhe ini kuno! Sekarang sudah zamannya teknologi canggih, masak masih percaya dengan hal gituan?” timpal Nandar berusaha membela Rizal.
            Kowe ki ngertimu opo!? Apa kalian mau desa kita mendapat musibah dan malapetaka?” Pakdhe Marno tak mau kalah. Wajahnya semakin garang.
            Rombongan Rizal sedikit mulai goyah. Antara percaya dengan omongan pakdhe Marno atau ceramah pak kyai di masjid-masjid. Seraut wajah Rizal Cs tampak ragu. Mereka hanya saling pandang, lalu menunduk, untuk berpikir.
            Tole-tole. Kalian harus tahu kalau selain kita yang hidup di dunia ini, juga ada makhluk lain yang hidup di alamnya,” terang Pakdhe Marno berusaha membujuk, “alam tak kasatmata.” Imbuhnya menjelaskan sambil menoleh ke arah makam tua.
            Rizal terdiam, sedikit menunduk, melihat telapak kaki pakdhe Marno yang berdiri dua meter darinya. Terlihat dua pasang kaki dengan alas sandal yang sudah usang menginjak tanah basah karena terguyur hujan semalam. Bagus, Ipung, Aji, Asep, dan juga Nandar hanya diam. Mereka tampak bingung, sesekali saling memandang satu sama lain.
Dan di siang itu, dua kubu, Rizal Cs dan Pakdhe Narno Cs saling beradu argumen. Pola pikir mereka saling berlawanan. Seperti partai oposisi yang saling ingin menang sendiri. Meskipun pengalaman yang tua lebih banyak, tapi bukan berarti yang muda tidak punya kemampuan untuk mengatasi masalah ini. Dan masalah ini hanyalah masalah sepele, hanya soal pohon roboh di pemakaman.
            “Pakdhe, pohonnya kan roboh karena angin, jadi kita nggak salah kalau harus menebangnya!?” suara Nandar terdengar, memecahkan sesunyian siang itu. Rizal terperangah setelah beberapa menit terdiam. Rizal menoleh ke arah Nandar sambil mengangguk-angguk.
            “Iya, Pakdhe, iya,” sahut Rizal Cs serempak.
            “Untuk alasan apa pun, pohon itu nggak boleh ditebang!!!” gertaknya keras, hingga buih liur terlihat di kedua ujung bibirnya yang cokelat.
            Setelah tak ada yang mau mengalah, akhirnya hari kembali hujan. Titik-titik gerimis mulai terasa di kulit, dan angin kencang pun datang lagi seakan ingin menerjang pepohonan di sekitar makam tua itu. Tanpa meninggalkan sepatahkata pun, rombongan Rizal Cs meninggalkan pakdhe Narno dan yang lainnya.
            “Sebaiknya besok kita bawa kyai, Zal. Biar pakdhe ku sadar kalau percaya kaya gituan itu namanya musyrik…” usul Nandar di sela-sela perjalanan pulang.
            “Kita nggak usah bawa-bawa agama bro, cukup dengan meyakinkan warga kalau itu dapat mengganggu lingkungan…” balas Rizal sambil terus melangkah.
            “Wah, betul apa kata Rizal. Pohon segedhe itu bahaya kalau nanti kena angin dan menimpa warga yang lewat.” Timpal Ipung sambil menoleh ke arah Nandar, kemudian Rizal.
            “Tapi gimana mas bro, pakdhe Narno kolot gitu!?” tanya Asep dengan ekspresi bingung.
            Mereka tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Saling berpandangan satu sama lain.
            “Hmm… sebelum pohon yang satunya roboh, kita harus menebangnya terlebih dulu.” Kata Rizal sambil memandang temannya satu persatu, “kita yakinkan warga kalau cuaca lagi ekstrim. Dan kita harus cari data dari BMKG dulu, gimana bro?” sambungnya menjelaskan.
            “Wah ide cemerlang itu Zal. Kita harus bertindak cepat, lihat saja setiap hari langit terlihat hitam kelam gitu.” Kata Nandar menyetujui ide Rizal, sambil menepuk bahu kanannya.
            Rizal Cs mengangguk mantap seraya mengembangkan bibirnya. Dan semua kembali menapaki jalan di pinggir sawah, memasuki desa Kramatrejo.
***
            “Pakdhe, sebenarnya asal-usul desa Kramatrejo itu gimana to?” suara Nandar memecahkan kesunyian malam. Ia menikmati malam bersama pakdhe Narno dan Lek Sugeng di emperan.
            “Detailnya aku juga kurang tahu, tapi simbah dulu pernah cerita kalau nama Kramatrejo diambil dari makam mbah Kramat yang di tengah sarean itu,” jawab Pakdhe Narno sambil memlintir-mlintir rokoknya sebelum dibakar, lalu dihisapnya.
            Nandar mengangguk, “apa ada hubungannya dengan pohon beringin itu?”
            Pakdhe Narmo mengehembuskan nafas kuat. Terlihat kepulan asap keluar dari mulut dan hidungnya. “Pohon beringin itu hanya sebagai tanda kalau makam itu memang keramat dan perlu dihormati selayaknya presiden.” Ujarnya menjelaskan.
            “Walah Pakdhe, Pakdhe, masak makam disamakan dengan presiden? Hmm.. coba pakdhe lihat berita-berita di TV, Presiden pada dikata-katain,.. bahkan ada juga yang menyamakannya dengan binatang ternak, kebo.” Papar Nandar sambil tertawa sinis.
            “Itu karena mereka yang mengatain itu nggak punya etika dan sopan santun!”        “Negara kita kan negara demokratis pakdhe, jadi itu hal yang wajar saja ….”
            “Gimana ya, manusia sekarang ini sungguh aneh. Aku sendiri juga bingung ko Le, sebaiknya kita percaya dengan makhluk halus atau percaya dengan pemimpin yang jelas-jelas terlihat dasinya gembandul di leher.” Akhirnya Lek Sugeng urun bicara.
            “Walah Lek, Lek, kita memang harus percaya sama makluk halus. Jelas-jelas kita percaya sama Tuhan yang Maha Kuasa,” balas Nandar, “…dan kita juga harus percaya dengan pemimpin yang bijaksana, mementingkan rakyatnya ketimbang golongannya.” Sambungnya bijak.
            “Ngomongin apa kalian? itu urusan mereka yang di atas. Kita rakyat kecil cukup menjalani hidup dengan baik.” Sahut pakdhe Narno, nimbrung.
            “Jadi intinya, pohon itu nggak ada hubungannya dengan makam mbah Kramat ya pakdhe?” sela Nandar cepat.
            “Nggak ada sih Le,” jawab Pakdhe Narno ragu, “apa kalian bener-bener mau menebangnya?”
            Nandar memandang pakdhe Narno serius, “Iya pakdhe.”
            “Kalian tak khawatir jika desa kita terkena musibah?”
            Nandar menggeleng, “Musibah itu pemberian yang Kuasa, pakdhe.”
            Di kesunyian malam itu angin berhembus pelan, menyapu jaket dan rambut Nandar, Pakdhe Narno, dan Lek Sugeng. Asal-muasal desa Kramatrejo memang sangat keramat. Bahkan secara detail, nama desa itu masih menjadi misterius. Siapa sosok mbah Kramat, tidak ada yang tahu. Mereka bertiga hanya saling pandang.
            Suasana kembali hening. Keraguan mulai menyerang batin mereka, dan hingga malam bertambah larut, mereka tetap terdiam sambil menikmati bau tembakau yang berhembus lewat mulut dan hidung, lalu tersapu liukan angina malam.
            “Pakdhe, aku yakin pohon itu nggak ada sangkut pautnya dengan makam yang berada di tengah kuburan. Jangan dicampur adukan, mana yang sebaiknya dan seharusnya disingkirkan… toh, kita nggak akan ngapa-ngapain makamnya kok.” Kata Nandar memberondong, memecahkan keheningan setelah beberapa menit terbius sepi.
            Pakdhe Narno dan Lek Sugeng saling memandang.
            “Bukankah begitu, Lek?”
            “Heh?” jawab Lek Sugeng gagap, “Oh iya, betul apa kata Nandar, pakdhe.”
            Pakdhe Narno hanya diam, menatap wajah Nandar lekat, kemudian ganti wajah Lek Sugeng. Setelah beberapa menit, ia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata. Nandar dan Lek Sugeng hanya saling memandang, melongo, tak mengerti apa yang pakdhe Narno pikirkan.
***
Paginya, rombongan Rizal Cs kembali berbondong-bondong menyusuri jalan kampung menuju makam. Dari arah berlawanan, pakdhe Narno terlihat seius ingin menghadang niat Rizal Cs.
“Tunggu sebentar!!!”
“Ada apa lagi Pakde? Tekat kami sudah bulat!”
“Begini Zal, pohon ini banyak dijadikan tempat mata pencaharian penduduk…”
“Maksud pakdhe apa? Bukankah mata pencaharian warga kampung Kramatrejo ini petani?”
“Iya, tapi tak sedikit yang meminta petuah dari pohon besar ini!”
“Ah! Itu hanya alibi pakdhe saja.” Sahut Ipung geram.
“Kalian lihat di bawah pohon itu setiap hari jum’at selalu ada kembang setaman.”
“Begini ya, pakdhe… bukan maksud kami untuk memutus mata pencaharian mereka. Kami cuma sebagai pemuda tidak mau kalau kampung kami terlihat singup dan keramat.” ujar Rizal sabar.
Wee, pakdhe apa juga ikut-ikutan?” timpal Nandar.
“Kalaupun itu menguntungkan kenapa enggak, le…?”
“Hah! Payah!!!” umpat Nandar keras.
“Hmm ya udah,.. terserah kalian mau nebang pohon itu… tapi yang jelas, warga tidak akan menghilangkan tradisi itu.”
Kekolotan pakdhe Narno akhirnya menciut. Pohon tua itu segera ditebang dengan gergaji mesin yang diperoleh Rizal dari kawannya yang kuliah di teknik mesin. Dan makam tua itu, kini terlihat lebih padang, lebih hidup dan enak dipandang mata.
***
Jika langit yang biasanya murka, malam ini desa Kramatrejo terlihat tampak tenang. Bau nyiur, menyan, dan kembang setaman yang biasa memenuhi molekul udara, kini tak tercium lagi. Warga masih bisa memanen padinya, dan bocah-bocah tak lagi takut dengan sosok makhluk keramat yang hanya sebuah ilusi. Dan untuk pemuda, mereka bisa menikmati malam minggunya dengan memainkan gitar. Menyanyikan lagu-lagu karya pengamen jalanan, atau bahkan karya presiden yang tak mau kalah dengan musisi terkenal.
Sekarang desa Kramatrejo semakin tampak mamur. Tak  ada musibah ataupun malapetaka. Hasil panen yang melimpah, dapat beraktivitas di malam hari tanpa ada ketakutan, menjadikan warga semakin percaya bahwa hal yang tak logis itu akan membuatnya semakin terhimpit dan tak mampu berkembang layaknya teknologi seperti sekarang ini. Tamat
***

Boyolali,  April 2013

Rabu, 19 Juni 2013

Di Sebuah Ruang Terkutuk





Otot matanya merah tegang. Ambisiusnya untuk menghilangkan nyawa Kang Parmen yang diketahuinya telah menyebabkan kematian adiknya sudah tak terkendali. Rengekku tidak mampu meredamkan api dendam yang menyulut hati sampai akal pikiran. Dendam yang sudah bertahun-tahun mengendap, kini telah menyembul, membakar hati yang sebelumnya lembut dan penuh kasih sayang.
”Kau tidak tau betapa aku mencintai Nina, adikku?”, ungkap Tono sambil menatapku tajam. Jiwanya telah dikuasai setan. Langkah kakinya keluar masuk kamar untuk mencari sebilah golok.
”Tapi mas, itu hanya akan memperkeruh keadaan...”, ucapku berusaha menenangkan.
”Cuih! Persetan dengan keadaan!” ungkapnya dengan nada tinggi penuh nanar.
Otot-otot bola matanya seakan meloncat keluar, diikuti otot di kedua pelipisnya menegang seraya tangannya mengepal di genggaman, kuat.
Tubuhku gemetar di ruang tengah melihat Tono berlalu kemudian lenyap dari pandangan dengan membawa sebilah golok di tangan kanannya.
***
”Nina?”, sentakku kaget ketika sorot mata Nina terlihat dari celah pintu kamar.
Lalu dia berlari, menyembunyikan badannya yang kecil setelah aku membuka pintu untuk memastikan keberadaannya.
***
Malam ini, hatiku bergemuruh. Makhluk bernama iblis telah merasuki hingga akal ini terperosok ke jurang jahanam. ”Aku harus membunuh Tono sebelum anak dalam kandunganku ini kehilangan bapaknya!” gumamku pelan seraya mendengus panjang. Oh. Tidak! Tono adalah suamiku. Aku mencintainya. Tapi aku juga tidak mau orang yang telah memberiku keturunan ini mati. Kepalaku menggeleng kuat tak berdaya.
”Hasil dari lab dinyatakan suami anda tidak bisa memberi keturunan, mandul,” terang dokter Andrean itu selalu terngiang-ngiang hingga aku beranikan diri untuk berselingkuh dengan Parmen. Tukang ojek yang sering mangkal di pojok kampung dan kerap menjadi langgananku kalau motor satu-satunya di pakai Tono untuk kerja.
Aku terlalu menyayangi Tono, meskipun tujuh tahun pernikahan ini belum dikaruniai anak, sifatnya yang penyayang dan penuh kelembutan, selalu menepis suara hati untuk menceraikannya.
***
Peluh panas dingin mengucur deras di sekujur tubuh. Seluruh badanku tergagap, mendapati Tono membujur kaku penuh darah di sekujur perutnya. Tanganku berlumuran darah, begitu juga perut Tono yang terkoyak hingga terlihat lubang yang menganga.
”Tidak! Aku tidak membunuhnya! Aku sangat mencintainya!” teriakku histeris sambil menjauhi jasadnya. Tubuhku kelimpungan melihat jasat suami yang aku cintai telah terbujur kaku dan membatu.
***
”Aku sangat mencintainya... aku tak mau dia mati di tangan Parmen, seperti Nina adiknya” terangku dengan mulut gemetar diikuti air mata tumpah membanjiri. Sesekali mulutku tersengal-sengal, berusaha mengatur nafas yang tak tentu.
”... hingga aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri, Pak.....” lanjutku sambil menunduk, memejamkan mata.
Dari telinga, terdengar suara mesin ketik yang setiap hurufnya ditekan untuk menghasilkan sebuah kalimat atas pernyataan yang keluar dari mulutku. Mata ini terasa kelu tuk menatap apa yang di depan mata. Bayang-bayang tubuh Tono masih menjadi momok dan itu akan membuat tubuhku tersengal. Tangan ini mencabik-cabik daster yang aku kenakan, daster yang penuh lumuran darah Tono, daster yang menjadi saksi atas kebodohan atas pelampiasan setan bejat yang merasuki aliran kerja otakku.
”Ibu tenang dulu! ” tungkas laki-laki berseragam cokelat yang duduk di depanku.
***
”Aku tak mau anak ini mengetahui hubungan kita”. Terang Parmen setelah dengan susah payah menyeret tubuh anak kecil itu ke dasar sungai, untuk ditenggelamkan.
”Bagaimana kalau mas Tono tau, Nina mati bukan karena tenggelam?” mulutku gemetaran diikuti tubuh yang menggigil karena angin malam yang berhembus kencang.
”Itu tidak mungkin, karena anak ini suka sekali main di sungai ini...”, sangkalnya pelan diikuti desah nafas yang memburu. Lengan kanannya mengusap peluh yang sebentar lagi melewati relung mata.
Gelagat Parmen  mengendap-endap, menyusuri anak tangga menuju jurang sungai. Aku berdiri di atas bukit untuk memastikan keadaan malam itu benar-benar sunyi, aman, tanpa ada makhluk lain  yang mengetahui apa yang aku lakukan bersamanya di tengah malam, di tepi sungai, ujung perbukitan.
Kesunyian malam penuh kelam.
***
Sorot mata ini terlempar jauh, masing-masing tangan mencengkeram kuat teralai besi yang menutup rapat ruang terkutuk ini.
”Maafkan ibu sayang... semua ini bukan salahmu....” tanganku mengelus lembut perut yang sudah membuncit dengan penuh penyesalan.
”Ibu ingin, kelak kau menjadi anak yang baik. Tidak seperti ibumu yang nista ini...,” senyumku mengembang getir. Mengakhiri malam yang kian kelam, di sebuah ruang kebisuan yang  menjadi saksi bahwa hidup ini adalah pilihan. Karena aku memilih untuk melukai, lalu membunuh, dan lalu hidup di sebuah ruang kenistaan ini. Aku lalui hidup ini bersama sunyi, yang semakin mencekam bersama anak yang aku kandung di dalam sebuah ruang terkutuk. Betapa nistanya diriku, dalam ruangan terkutuk ini, dimana telah aku impikan tentang kebaikan jabang bayi. Tentang hidup yang harus hidup, meskipun jiwa ini sudah tidak hidup layaknya manusia hidup, karena aku telah membunuh laki-laki yang penuh dengan kasih sayang dan itu adalah suamiku. Lalu aku pejamkan mata pelan, sangat pelan, berharap ini semua hanya mimpi yang dapat aku kutuk lalu aku usir di sebuah ruang terkutuk.

Boyolali, 19 Juni 2013
*Tulisan ini pernah dapat nominator

Rabu, 15 Mei 2013

Siluet Pagi



Sejak subuh tadi hingga pagi menyingsing, aku masih berdiri, memandang hamparan sawah dari atas balkon. Mata ini tak lelah menikmati hijaunya persawahan yang penuh dengan tanaman padi yang satu bulan lagi para petani bisa memanennya. Dan dalam diam, aku berusaha menyusun kalimat terbaik untuk seseorang yang tigapuluh menit lagi akan bertemu denganku. Mencari untaian kata dari setiap sudut persawahan yang memancarkan aura ramah, karena telah menyapa senyum
pagiku dengan pesonanya.
Semburat jingga sudah mulai terpancar dari ufuk timur. Terlihat cahaya kemerahan menampar ribuan tanaman padi di sawah, seberang jalan. Aku tersenyum puas, setelah yakin dan percaya bahwa kata-kata yang berhasil aku kumpulkan dalam benak nantinya tak akan membekas menjadi luka. Reno, laki-laki yang sudah aku kenal selama lima tahun ini pastinya sudah memahami cara ucap dan bahkan sifat kekanak-kanakanku. Dan aku pun segera berlari turun setelah terdengar bunyi bel beberapa kali.
“Masuk Ren!” pintaku cepat, lalu meninggalkannya sebentar untuk mengambilkan minum dan makanan kecil untuknya.
“Wajahmu terlihat pucat say?” katanya sambil menyelidik raut wajahku. Aku yang sedang meletakkan minuman di atas meja tiba-tiba terperangah. Sejak ia menembakku, sampai sekarang ia memanggilku dengan sebutan sayang. Aku sebenarnya risih, karena jujur dalam hati sulit menerimanya sebagai seorang kekasih, dan bagiku sampai detik ini ia tetap sahabatku.
“Oohh… mungkin karena belum terbiasa dengan cuaca dingin,” jawabku menutupi semua perasaan yang selama ini aku pendam. Sejak mengenalnya, ia lah orang pertama yang bisa membuatku tersenyum, rasanya sulit melepasnya, tapi karena ada rasa cinta yang secara terang-terangan keluar dari mulut tipisnya, tiba-tiba aku ingin enyah dari hidupnya.
“Sejak kau pindah ke sini, kau tak pernah menghubungiku lagi. Apa ada yang salah dengan diriku??” protesnya dengan ekspresi serius.
“Enggak, nggak ada yang salah, hmm…. aku hanya butuh ketenangan aja Ren…” balasku sabar, berusaha menjaga perasaannya. Aku akui, sebenarnya aku ingin menghindarinya. Dan bahkan aku ingin ia melupakanku, karena aku tak ingin membuatnya terluka terlalu dalam.
“Ketenangan yang bagaimana say? Apa kau tak nyaman lagi dengan kehadiranku?” tanyanya tak sabar ingin tahu. Sepertinya ia bisa membaca semburat kebohongan di wajahku.
“Ah, itu hanya perasaanmu aja!” tepisku cepat.
“Lantas kenapa kau tak pernah menghubungiku lagi? bahkan kau juga tak mengangkat teleponku???!!!” lanjutnya curiga.
“Maaf Ren, aku sengaja melakukan itu,” jawabku lemah, sedikit menunduk, merasa bersalah. Saat itu aku seperti tersangka yang sedang diadili. Dihujani sederet pertanyaan yang menyudutkan.
“Se-nga-jaaa???”
Aku mengangguk pelan.
Why? Anyproblems with me?
“Ren,” perlahan aku memberanikan diri untuk menatapnya, “aku… aku tak bisa seperti ini…”
“Seperti ini gimana sayang??” sahutnya tak sabar. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku dengan mencengkeram erat kedua pundakku.
“Aku ingin kau melupakanku, meskipun aku tahu ini sulit untukmu,” kataku sambil menepis nafas, “aku hanya tak ingin kau semakin terluka…”
“Hah? Apa kau sudah punya tunangan? Seorang laki-laki yang lebih hebat dan bisa membuatmu terus tertawa puas!!??” katanya keras sambil berdiri menengadah, memandang ke segala sudut ruangan dengan kedua tangan terbuka.
“Kau salah Ren, kaulah satu-satunya orang yang mampu melakukan itu kepadaku!” aku ikut berdiri sambil menatapnya lekat.
“Lantas!?” sahutnya sambil tertawa kecut.
Aku kembali duduk, menarik nafas panjang, lalu segera membuangnya. “Tentunya kau sudah tahu, Ren ….” kataku sambil memandangnya iba. Saat ini aku merasa menjadi wanita terkejam yang berani mencabik-cabik perasaan dan harapan seorang laki-laki yang baik dan santun itu.
“Oke, oke, fine…!!! Aku memang tak pantas untukmu.” Katanya menyerah. Ia meletakkan tubuhnya di sudut kursi yang jauh dengan tempatku duduk.
“Kau tahu kalau sebenarnya aku mencintaimu?” aku mendekatinya, menyentuh tangannya di pangkuan. Terlihat otot-otot kemarahannya menonjol tegang di kedua pelipis.
“Iya, aku tahu!” jawabnya ketus tanpa menoleh ke arahku.
“Ren, aku senang telah mengenalmu, kau tahu kaulah satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum.” Ujarku berusaha mencairkan suasana, sambil tersenyum tipis memandang Reno. “Kau ingat nggak ketika SMA dulu aku dijuluki nenek sewot, karena aku jarang tersenyum dan sering marah kalau ada anak yang menggodaku.” Sorot mataku terus memandang Reno, berusaha membuatnya mengingat masa lalu ketika pertama kali ia membuatku tertawa geli.
Dulu, Reno sering memberiku gambaran karikatur yang lucu. Kelihaiannya dalam hal gambar-menggambar menggeretnya untuk masuk ke jurusan seni rupa. Dan sampai detik ini aku masih sering dibuatnya tertawa oleh gambar-gambar konyol hasil imajinasinya.
“Aku tak mungkin melupakannya, Rez…! Kau tahu, aku memendam rasa sayang ini sejak kau tersenyum pertama kali kepadaku.” Ucapnya tenang sambil menoleh ke arahku. Sorot matanya yang teduh menangkap kedua sudut bola mataku. Cukup lama, ia terus menelanjangiku dengan tatapannya yang membius. Namun, aku segera mengalihkan pandangan, sebelum pikiran ini hanyut oleh nafsu hasil bujukan setan.
“Iya, aku pun begitu, Ren.” Jawabku pelan sambil membenahi letak duduk. Pagi ini aku tak ingin Reno menatapku, karena dengan tatapannya aku pasti tak mampu untuk mengelak. Aku sudah menata hati, bahwa aku tak semestinya bersanding dengannya. Meskipun, jujur, aku telah membohongi hati kecil ini.
“Rez, apa kau sudah punya tunangan?” Reno kembali mengulang pertanyaannya. Kali ini ia benar-benar terlihat lemah. Tidak seperti biasanya yang terlihat gagah, cool, dan selalu semangat.
Aku menggeleng pelan.
“Apa ayahmu tahu tentang kedekatan kita?”
Kepalaku mengangguk, “tapi Ren, ayah tak pernah menyuruhku untuk menjauhimu…” kataku cepat sebelum ia menyimpulkan tentang sikapku pagi ini.
“Iya, aku tahu, Om Aries bukan tipe orang seperti itu.” Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sekejap suasana menjadi hening.
Tubuhnya yang besar dirobohkannya pada sandaran kursi. Pandangannya lurus ke atas, menatap lamat-lamat ruang tamu. Sesekali menarik nafas panjang, lalu membuangnya kuat. Dan di ruang tamu itu hanya terdengar jarum jam yang berputar cepat. Secepat waktu yang telah memakan usia dan cerita masa sekolah dulu, bersamanya. Rupanya waktu telah mengajariku, bahwa hidup ini bukan untuk main-main, dan termasuk hati ini. Sudah saatnya aku harus memilih apa yang terbaik untuk dunia, dan juga akhirat nanti.
“Ren, kau marah kepadaku?” tanyaku ragu. Suasana pun kembali pecah.
“Iya, aku marah pada hatiku!” jawabnya mantap.
“Maafin aku ya,” kataku lemah.
“Aku butuh waktu Rez!” ujarnya, “aku tak tahu harus berbuat apa, tembok kita terlalu tinggi.”
Kali ini aku yang menatapnya. Terlihat parasnya pasrah. Kedua tangannya mengepal di atas pangkuan, seperti menyimpan dendam yang telah lama disimpannya.
“Kau telah menjatuhkanku, Rez!” suaranya kembali terdengar.
“Aku tak bermaksud….”
“Hah!!! Kau egois Rez!” potongnya geram.
“Aarrghhfff…. aku… aku ingin kau memahami keadaan ini, Ren. Kita tak mungkin bisa bersama! Ayah memang tak melarangku dekat dengamu, begitu juga ibuku. Mereka sangat menyukaimu, sehingga mempercayaimu untuk menjagaku selama tinggal di Jakarta. Tapi, aku harus tahu diri Ren, aku tak mungkin mengajakmu untuk mengikuti apa yang menjadi… aarrgghff… itu tak mungkin!” terangku dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
“Tapi aku sungguh mencintaimu Rez….!” Ia kembali menggoyangkan tubuhku dengan tangannya yang kuat, tapi aku segera memberontaknya, lalu beranjak, melangkah mendekati jendela untuk menjauhi tatapannya.
“Sejujurnya, aku pun mencintaimu Ren.” Katanya pelan sambil melempar pandangan ke luar jendela.
“Apa kau tak merasa kehilanganku, jika kau percaya bahwa kau mencintaiku, kenapa kau tak ingin hidup bersamaku???”
“Antara hati dan pikiranku belum menyatu Ren, hatiku mengatakan telah mencintaimu, tapi pikiranku justru mengajakku untuk lari menjahuhimu.” Ucapku lemah sambil menoleh ke arahnya. Reno masih merobohkan tubuhnya di kursi.
Sebenarnya, aku tak ingin membuat keadaan kacau seperti ini. Tapi jika antara hati dan pikiran enggan menyatu, alhasil adalah ketidakberesan dalam mengambil keputusan. Dan cinta tak seharusnya dijadikan kambing hitam, karena kehadirannya telah banyak membuat orang lain tersenyum. Namun, untuk sebuah kepercayaan, aku harus rela bahwa cinta yang tumbuh ini hanya sebatas keinginan, bukan sebuah harapan. Airmataku mulai menetes dari kantung mata, mengalir membasahi pipi.
“Itu artinya kau meragukan cintaku, Rez!” nadanya naik sambil melangkah mendekatiku. Pandangannya tajam menusuk.
“Iya, aku meragukanmu…” suaraku lirih, hampir tak terdengar.
“Hoaaahhh!!!” umpatnya garang, “apakah aku harus bersumpah di atas kitab sucimu, atau bahkan aku harus mati dulu lalu terlahir kembali untuk mengatakan perasaan yang sama!!??? Ha?” raut wajahnya terlihat kacau. “Ooohh Tuhan… why did you create this difference?!!” tangannya meremas kepala.
            “Ren, please… I wish you could find a better one than me.” Tanganku meraih pundaknya, berusaha menenangkan. Reno hanya menggeleng berkali-kali, hingga tubuhnya rubuh, tersungkur di lantai.
            “Rez, aku tak bisa hidup tanpamu….” mulutnya bergeming sambil mencengkeram wajahku. Tatapannya lemah, memelas, berharap aku berubah pikiran dengan menarik semua kata-kata jahatku.
            “Maaf Ren, aku melakukan semua ini karena aku tak mau hal buruk menimpamu…”
            “Persetan!!! Hal buruk apa maksudmu!?”
            “Sejak ayah bercerai dengan ibu, rasanya sulit untuk tersenyum kepada kehidupan ini. Dan akhirnya aku mengenalmu, yang selalu bisa membuatku tersenyum dan tertawa lebar.” Aku menghela nafas, lalu segera membuangnya, “tapi, aku tak mau seperti apa yang dialami orang tuaku, bukan kematian yang memisahkan mereka, melainkan sebuah perceraian,” sambungku serius.
            “Aku nggak ngerti Rez.” Balasnya datar, sambil memicingkan bibir.
            “Aku sadar, aku telah melukai hatimu. Tapi, diam-diam aku ingin membuatmu tersenyum.” Aku memeluk Reno erat. “Aku sangat mencintaimu Ren, meskipun cinta ini tak mampu menyatukan kita,” ucapku sambil hanyut di lingkar lehernya. Aku merasakan detak jantungnya bersatu padu dengan detak jantungku yang berdegup kencang.
            “Aku ingin selalu membuatmu tersenyum, Rez. Itu janji kecilku kepadamu!”
            Aku melepaskan pelukannya, “Iya, terima kasih, tapi aku ingin kau juga membuat orang lain tersenyum sepertiku. Aku sudah terlalu banyak kau buat tersenyum, dan itu tak adil jika kau hanya mementingkan diriku.”
            Bola matanya membulat penuh, “Bodoh amat!!! Di dunia ini sudah tak ada lagi keadilan, Rez!” umpatnya kecut, “kenapa tidak dari awal membuatku benci? jika nyatanya kau tak bisa aku miliki?” lanjutnya tanpa ekpresi.
“Ren!!! Aku tak ingin kau….. aaarffgghhh… aku tak ingin kau mati sia-sia!!” suaraku menggeram.
            “Okelah, jika itu pilihanmu, lebih baik aku enyah dari hidup ini.” Jawabnya pasrah.
            “Ren, dunia ini telah banyak memakan korban, kau tahu itu bukan? Di dunia luar sana, banyak terjadi pertumpahan darah karena sebuah perbedaan. And now, i don't wanna fight no more,” kataku pelan, berusaha menguasai kemarahan yang menjalar ke umbun-umbun. Reno hanya memandangku, dingin.
            “Jika perbedaan hanya membawa celaka, kenapa harus ada?”
            “Bukan celaka Ren, tapi itu anugerah… hanya merekalah yang tak mau memahami arti pentingnya perbedaan. Perbedaan ada bukan untuk dimusnahkan, tapi untuk dihargai.” terangku, berusaha membuatnya mengerti. “Dan itulah sebabnya aku tak ingin menikahimu karena aku sangat menghargai keyakinanmu.” Pungkasku cepat.
            “Kenapa nggak dijadikan pelengkap di antara kita, Rez….?”
            “Maaf, aku nggak bisa Ren. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. So, biarlah aku cukup menghargaimu sebagai seorang sahabat…”
            Reno terdiam, memandangku serius, “baiklah, aku terlalu egois karena telah memaksamu untuk mencintaiku. Dan, satu hal yang harus selalu kau ingat, aku tak kan berhenti mencintaimu. Biarlah senyummu selalu tersimpan erat dalam lubuk hatiku,” katanya sambil memandangku tanpa berkedip.
            Aku mengangguk senang, lalu kembali memeluknya erat. Dan pagi itu, matahari telah mengintip kami lewat jendela kaca. Menampar punggung kami, hingga membentuk siluet pagi, sepasang manusia yang saling melepas rasa dengan mencurahkan semua perasaan yang selama ini telah mengendap di dalam dada.
            Tuhan, Engkaulah yang jadi pemenangnya, dan cintaku telah kalah ...” batinku seraya memejamkan mata lekat, di lingkar leher Reno.
***TAMAT***