Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2013

Cerpen: Satu Detik



Satu detik, dua detik, aku masih berpikir. Sampai berubah menitpun mataku masih jeli menatap layar monitor, polos. Cukup lama.Mungkin karena aku sudah lupa bagaimana membuat alur cerita atau memang sedang tak ingin membuat cerita yang mengada-ada. Oh Tuhan! Terlalu naif jika aku tak mampu menulis deretan kisah yang selalu berputar-putar di kepala.
Dan menit pun bertumpuk menjadi deretan waktu yang panjang, jam. Aku masih termangu, berusaha mencari, mengumpulkan, menghias cerita yang sebenarnya tidak menarik. Tapi baiklah! Kali ini aku harus memaksa jari lentikku ini menari lincah dan memutar otak untuk menceritakan apa yang sebenarnya tidak terjadi dan tidak pelu terjadi. Ini hanya kisah fiktif, kawan! Cekidot :)
***

Angsana kuning
Entah sejak kapan, aku lupa,gadis ayu nun rupa itu selalu datang di tengah mimpi malamku. Dulu sekali, aku hanya melihatnya sekilas ketika sedang melakukan aksi di depan kantor rektor. Ia mengenakan baju biru lembut dan jilbab yang menutupi mahkotanya. Tampak cantik sekali. Sebagai mahasiswa baru, waktu itu, aku hanya ikut berteriak menuntut kebijakan kampus yang tidak masuk akal. “Tuntut Deno! Tuntuuuttt!!!” Semua berteriak, serentak. Wajah-wajah nanar saling bertatapan. Coretan-coretan di karton pun diangkat tinggi-tinggi sebagai wakil tuntutan kami.
Yang aku tahu, Deno adalah aktor penyebab tersendatnya bangunan gor kampus yang sudah bertahun-tahun mangkrak tanpa jelas juntrungnya. Ia-lah pengatur sistem keuangan dan pengepul dana hibah dari berbagai pihak. Dan ia juga lah yang mengatur masterplan pembangunan kampus. Tapi, tak satu pun programnya yang berjalan dengan baik. Demi Deno, kami menuntut dan berteriak hari ini.
Terik mentari yang menampar punggung tak membuat kami menyerah.Terus saja berteriak tanpa jeda. Namun sayang, teriakan itu berakhir sia-sia. Tak satu pun penggede kampus yang terlihat batang hidungnya. Mereka seperti seekor tikus yang bersembunyi dari kejaran kucing jalanan yang rakus. Hanya satpam-satpam yang bersikap sok bijak itu yang berusaha menenangkan kami.
Mahasiswa yang berlalu-lalang pun tiada peduli dengan apa yang terjadi. Mereka seolah acuh, membuang muka, masa bodoh dengan tikus-tikus berdasi yang berkeliaran di kanan-kirinya. “Tuntuuuttt!!!” suara bersahutan sambil meninjukan kepalan ke udara, serempak. “Tuntuuuuuttt!!!” suaraku lantang, gemas sekaligus kesal.
Aku membuang nafas panjang, sia-sia. Setiap aksi yang terjadi hanya menjadi hiburan bagi mereka-mereka. Itulah yang aku rasakan sampai detik ini. Seakan usaha untuk menegakkan keadilan dengan cara itu sudah tidak manjur, tertelan zaman. Beda sekali ketika masa reformasi, lima belas tahun silam. Sekarang, semua orang acuh, apatis.
Gadis itu berhenti, melihat aksi-ku. Tidak banyak yang ia lakukan.Ya, ia cukup melempar senyum tenang dari jarak lima meter. Lalu kembali melanjutkan langkahnya. Aku sempat menoleh kearahnya, namun sayang, hanya terlihat punggungnya yang mulai mengecil, meninggalkan.
Itu empat tahun yang lalu. Empat tahun yang cukup lama untuk menyimpan banyak Tanya. Siapa gadis anggun itu? Dari fakultas apa? Dan siapa namanya? Ia seperti pelangi yang tak pernah terlihat disepanjang musim kemarau. Begitu langka di antara para gadis kebanyakan.
Aku menghembuskan nafas kuat. Menyelonjorkan kaki di bawa meja, ruang baca, di perpustakaan. Satu persatu halaman buku yang sejak satu jam lalu-ku cengkeram kini mulai menipis. Lalu-lalang mahasiswa semakin banyak, namun suasana tetap tenang dan kondusif. Udara yang berhembus dari balik jendela membuatku betah berlama-lama menghabiskan tumpukan-tumpukan buku yang sudah lama mengantri, sabar.
“Eh! Ni abang yang suka aksi di depan kantor rektor, bukan ya?” suara lembut itu menghentikan bacaanku. Aku berpikir sejenak, “Hmm iya,,” menoleh, menyelidik wajah yang menyembul tiba-tiba di depan mataku.
“Raisa.”Ia menjulurkan tangan.
“Panggil aja Bang Say.”Tanganku menyambutnya, bersalaman. Seketika nafasku tertahan untuk beberapa detik. Mengingat peristiwa empat tahun silam dan juga gadis dalam mimpiku. Benar! Ini senyum yang telah lama aku nantikan. Senyuman manja yang tertunda oleh waktu yang cukup lama. Dan sekarang, senyum simpul itu terlihat jelas di depan mata. Hanya berjarak tak lebih dari lima jengkal. Rasanya seperti turun hujan setelah tujuh tahun dilanda kemarau, mengerikan.
Raisa mengangguk, senyum ramah mengembang lagi.
Lesung pipinya. Aku pernah melihat lesung pipi itu di dalam mimpi. Namun, di dalam mimpi ia tampak murung, tidak seperti sore ini. “Ah! Itu hanya mimpi,” tepisku segera membuang firasat buruk.
            Aku masih tertahan, salah tingkah sambil berusaha menguasai diri. Antara terkejut, bingung, dan senang, menyatu. Aku pun mengatur nafas.
“Abang, bukankah aksi itu percuma dan kuno?”Ia mengawali pembicaraan, memecahkan keheningan. Aku menarik kursi, membenahi posisi duduk. Ia lebih dulu duduk dengan posisi yang nyaman sambil menatapku, ingin tahu.
Aku tertawa samar, “Apapun hasilnya, setidaknya itu akan membuat mereka terpojok.”jawabku sekenanya sambil berusaha memasang wajah semanis mungkin. Masi belum percaya gadis yang selama ini aku tunggu, aku cari, bahkan hadir di dalam mimpi tengah duduk memandangku antusias. “Dan kau jadi tahu, bukan? Apa yang terjadi di kampus tercinta ini?” Kali ini aku tertawa menggoda. Berusaha mencairkan suasana tegangku sendiri. Raisa pun ikut tertawa kecil.
“Iya deh! Salut buat aksi-aksinya.” Raisa mengacungkan kedua jempolnya. “Aku duluan bang, sudah ditunggu teman di luar.” Ia menarik tubuhnya dari kursi. Membenahi beberapa tumpukan buku yang beberapa menit lalu diambilnya dari rak untuk dilaporkan kepada petugas perpus, lalu berlalu sebelum aku bertanya balik kepadanya.
“Oke, silahkan!” aku mengangguk. Dan Raisa kembali tersenyum sebelum benar-benar meninggalkan kursinya. Aku sungguh mengingat senyuman itu. Bibir tipis berbalut lipgloss merah lembut beserta lesung pipi yang nyaris tiada duanya di dunia ini. Raisa pergi meninggalkanku dengan segala tidak kepercayaanku atas hadirnya, sapanya, dan senyum lembutnya.
Seketika kembali sunyi.
Aku pernah mendengar dari beberapa mahasiswa. Raisa adalah gadis yang tertutup. Di antara puluhan laki yang ingin mendekatinya, tak satupun yang bisa meraih isi hatinya. Raisa hanya bergaul dengan anak-anak perempuan. Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi salah satu bagian dari puluhan laki-laki sia-sia itu. Tak mampu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam hidup gadis itu? Karena aku sendiri bukan tipe laki-laki yang romantis apalagi penakluk wanita. Aku terlalu sibuk dengan tumpukan buku, isu-isu kampus bahkan negara yang terus saja menumpuk seperti sampah yang bau busuknya semakin merajarela.
Memang. Aku kadang iri dengan mereka yang menghabiskan waktunya untuk bermain ke sana-kemari bersama kekasihnya. Mengukir kenangan manis, menyumet lilin di malam remang hanya untuk sekedar dinner atau bercanda. Aku bukan mereka yang bisa mencintai wanitanya sepanjang malam, jam, menit, maupun detik.
Dan malampun menjemput. Satu dua orang mulai mengisut meninggalkan perpus yang luas, penuh dengan deretan buku yang membisu. Bagi mahasiswa semester tua, malam bukanlah hal yang menyeramkan ketika harus duduk di perpustakaan seorang diri. Justru, kebanyakan mahasiswa yang telah usia lanjut sering menghabiskan waktunya berlama-lama di perpus sampai benar-benar ada petugas mengusirnya.
Kali ini, aku pun mengalaminya. Diusir, karena jam jenguk perpus sudah habis.
***
Pagi ini masih terbungkus embun, rapat. Baunya tercium mesra berkat semilir angin yang berhembus pelan. Dahan-dahan palm di sepanjang jalan menuju area parkir fakultas komunikasi bergerak lembut menyambut kedatanganku. Angin itu menggoyangkan daun-daun penuh kelembutan. Seperti penari jawa yang melenggangkan badan, menggerakan sampur penuh kehati-hatian, namun penuh dengan makna. Atau seperti seorang kekasih yang membelahi lembut rambut gadisnya.
Aku meletakkan beberapa tumpukan stopmap yang berisi revisian skripsi di kursi, samping area parkir, yang biasanya dijadikan tempat anak-anak nongkrong. Mataku menyelidik, membuka lembaran revisian yang di corat-coret dosen tua renta tapi tetap saja aku mengidolakannya. Menurutnya demokrasi yang selama ini diagung-agungkan masih menjadi isapan jempol. Di tengah euforia demokrasi terdapat setumpuk kegelisahan. Mungkin benar apa yang dikatakan Ronggowarsito, jamane jaman edan yen ora edan ra keduman. Semua akan berebut kekuasaan tanpa pandang bulu. Yang gila semakin menggila, yang waras jadi ikut gila.
“Gila! Mau tidak mau aku harus selesai minggu ini.” Mataku terbelalak membaca pesan singkat Nano. Pendaftaran wisuda habis di bulan ini. Aku menelan ludah, memastikan semua akan berjalan lancar sebelum spanduk pembayaran semester depan terpasang di setiap pintu masuk fakultas. Aku mendesis penuh harap.
“Abang, bisa minta tolong?” suara perempuan tiba-tiba terdengar samar. Aku menoleh, melihat gadis kemarin sore itu kembali berdiri di sampingku. Benar-benar pagi yang gila. Kabar dari Nano sekaligus kedatangan Raisa yang tiba-tiba membuatku semakin gila.  Ia berdiri tiga jengkal dari mata telanjangku.Terlihat cantik, sempurna.
Aku masih menoleh, ““Eh! Iya Raisa, ada, ada  yang bisa abang bantu?” suaraku tergagap. “Duduk dulu,” pintaku cepat sambil memindahkan tumpukan stopmap ke atas pangkuanku.
“Raisa boleh minta pulsanya, buat sms emak di kampung, ga bang?” katanya tanpa basa-basi. Terlihat setumpuk kesedihan di raut wajahnya. “Counter masih pada tutup bang.” Lanjutnya manyun. Aku mendengarkan, takzim. Menatap bibirnya yang melengkung ke atas. Tapi tetap saja tak ada yang berkurang dari kecantikannya. Siapa yang tidak terpikat oleh gadis secantik Raisa? Melihat bibirnya mengembang saja sudah tak karuan rasanya. Apalagi dimintain bantuan di sepagi ini, dimana belum terlihat dosa-dosa yang berkeliaran. Nafasku mendesis, senang.
“Ini-ini. Pulsa abang masih banyak.” Raisa mengambil alih ponsel jadul dari tanganku. “Emak di telpon aja, biar bisa dengar suaranya.” Pintaku bijak.
“Terima kasih bang, sms aja.” Sahutnya cepat lalu sibuk mengetik ponsel milikku.Ia tampak serius. Tak terlihat lesung pipinya, mata bulatnya yang berbinar. Hanya terlihat bibirnya komat-kamit mengeja setiap kata, di layar ponsel.
Untuk sekian menit, hening.
“Sudah bang, Raisa duluan ya.Terima kasih sekali lagi.” Terlihat ada kesedihan di sorotan mata indah itu. Begitu ketara.
“Iya Raisa, hati-hati di jalan.” Balasku berusaha memahami isi hatinya. Aku terdiam sepanjang Raisa masih terlihat punggungnya.Ia berjalan tergesa. Entah apa yang sedang menimpa perasaannya. Siapa pula yang merenggut senyum renyahnya? Untuk sekian menit, aku berusaha mencari jawab lewat gelagat ganjilnya. Sambil garuk-garuk kepala, aku melangkah meninggalkan bekas duduk Raisa untuk menemui sang eksekusi tulisanku.
***
Huuuuffffff….  Aku membuang nafas panjang berkali-kali. Setelah mengeksekusi skripsi yang sudah lama terkatung-katung akhirnya sekarang bisa bernafas lega. Sedikit ada pencerahan setelah selama berbulan-bulan bertapa di perpustakaan, lari sana- sini mencari data dan narasumber, hari ini terbayar sudah. ACC bab empat. Tinggal menghitung hari, out dari kampus ini.
Matahari pun agaknya tengah bersuka cita. Tidak seperti biasanya yang terlihat muram, bersembunyi di balik awan kelabu. Sinarnya menembus rimbunan pohon angsana yang menjulang tinggi. Betapa indahnya hidup ini. Di warnai oleh maha karya Tuhan yang menakjudkan. Bunga-bunga angsana kuning berjatuhan, menyebar. Menutupi setiap ruas jalan. Seperti lautan kuning yang menggemaskan. Layaknya musim semi di Jepang. Bunga Sakura bermekaran di sepanjang jalan. Bagi penduduk Jepang, itu mempunyai arti yang sangat luar biasa. Ya, mekarnya kuncup-kuncup bunga berwarna putih dan pink adalah awal masa depan yang cerah yang penuh dengan pengharapan. Selain itu bunga sakura memiliki makna tentang kehidupan yang hening, sejuk, bahagia dan tenang. Bunga ini juga bermakna akan sebuah perpisahan, yakni ketika bunga-bunga yang menawan itu mulai berguguran.
Pandanganku mengeliling, melihat hamparan jalan yang menguning, terinjak-injak oleh ratusan kaki yang hilir mudik mengejar waktu di kampus ini. Tiba-tiba, aku teringat Raisa.
“Mak, maafin Raisa ya ga bisa membuat emak bahagia. Sampekan salam buat bapak, nanti jam tiga Raisa ke luar negeri ada study of change. Untuk perjodohan itu, sebaiknya ditunda dulu sampai Raisa benar-benar bisa melupakan Bang Topan. Terima kasih mak, doakan Raisa baik-baik saja.”
Mataku terbelalak. Membaca pesan singkat itu berkali-kali. Aku berusaha mencerna apa yang sedang menimpa gadis cantik itu. Keluar negeri? Itu berarti ia tidak hanya meninggalkan emak, Topan, dan calon jodohnya, tapi  Raisa juga akan meninggalkanku. Menghilang begitu saja sebelum aku benar-benar mengenalnya. Belum tahu apa kesukaannya? Apa hobinya? Warna favoritnya? Dan apa yang membuat ia menjauhi laki-laki selama ini. Ah! Topan? Siapa Topan? Sejauh apa hubungannya dengan Topan hingga tidak menginginkan perjodohan yang digelar keluarganya. Seberapa penting laki-laki itu dalam hidupnya? Aku mengbuang nafas, percuma.
“Sebelum terlambat, aku harus menemukannya.” gumamku lirih, bangun dari duduk, meninggalkan kebebasan yang baru saja aku nikmati. Aku berlari kecil, mencari jejak keberadaan Raisa. Bertanya ke beberapa mahasiswa yang melintas di depanku. “Oh Tuhan! Bodoh sekali diriku. Gadis yang telah menemani mimpiku selama ini akan pergi. Bodoh!!! disaat ia menghampiriku tanpa aku minta, aku tak memanfaatkannya dengan baik.” Gerutuku, menyumpahi. Sampai mentari benar-benar tenggelam, lelap dalam pangkuan, aku tak menemukan keberadaan gadis rupawan itu. Menyesal.
***
Tak ada yang spesial di hari ini. Kecuali tadi pagi, bab terakhirku sudah di ACC oleh kedua pembimbing. Antara senang karena PR-ku di kampus ini hampir selesai, namun juga sedih kehilangan orang yang aku puja selama ini, Raisa. Aku menatap monitor lipat, tanpa ekspresi. Kegalauan sedang menimpaku siang ini. Entah, di luar sana matahari juga turut berduka atas perasaan ini.
“Tidak mungkin kalau aku menghubungi nomer emaknya Raisa. Itu hanya akan menambah masalah. Karena aku belum mengenalnya.” Pikirku dalam hati, melamun. “Tapi, dimana aku harus  menemukannya?” Tanganku mengusap wajah, pasrah.
Di luar, rintik lembut menyambut kegelisahanku. Begitu juga perpustakaan, hari ini terlihat lengang, seperti acuh atas kesedihan yang menimpaku. Mungkin saja detik ini para pengunjung perpus ingin bersantai menikmati gerimis bersama kekasihnya. Saling bermanja dengan diiringan gerimis lembut di emperan, di rumah makan, atau nonton bioskop romantis. “Satu detik, aku telah kalah. Kehilangannya untuk selama-lamanya.” Gumamku lemah.
“Abang?”
Suara itu menyentakkan. “Raisa???” menoleh ke arahnya tanpa berkedip. Aku mencubit pahaku, berusaha meyakinkan kalau gadis itu benar-benar gadis yang membuatku kalang kabut. Aku terhenyak, berdiri, lalu mempersilahkannya duduk, di depanku, tepat di sebelah jendela perpustakaan, lantai tiga.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku basa-basi mengawali, masih terkejut.
“Hanya ingin bersantai sejenak saja, bang.” Balasnya berusaha menutupi pilu. Ia melempar senyum simpul. Seakan memamerkan dirinya sedang baik-baik saja. Ia menaruh beberapa buku di meja. Terlihat buku warna kuning langsat, Siti Nurbaya karya Marah Rusli.
“Oohh!” aku mengangguk ringan sambil melirik tumpukan buku di depannya. Berusaha menerima jawabannya, yang sebenarnya jauh dari keadaan yang aku lihat sekarang ini.
“Abang sendiri?” tanya Raisa menyelidik.
“Hah? Aku?” spontan telunjukku menuding hidungku, diikuti bola mata membulat. Raisa mengangguk. “Ini sudah menjadi salah satu bagian hidupku, duduk termenung seorang diri.” Jawabku sedikit melampiaskan kesepian yang selama ini telah membelenggu. Aku tersenyum getir mengakhiri.
“Iya, aku tau itu. Aku sering melihat abang duduk di sini. Hanya saja, maaf, aku tidak pernah menyapa abang.” Raisa menunduk merasa bersalah.“Abang saja yang terlalu acuh dengan orang-orang yang berkunjung ke sini. Abang sudah terhipnotis oleh lembaran-lembaran tulisan para tokoh nasional maupun dunia. So, i don’t want to disturb you.” Lanjutnya jujur dengan ekspresi kesal karena keegoisanku.
Aku menyengir sambil mengibaskan tangan. “Ah! Itu hanya sebagian kecil yang kau tahu dariku.”
“Hmmm, abang kenapa tidak mengajak teman atau pacar ke sini? Mungkin akan lebih hidup lagi.” Raisa menatapku, serius. “Eh! Maksudku, jika ada point penting yang perlu didiskusikan, kan enak kalau ada temannya, bang.” Raisa tertawa malu sambil membenahi jilbab merah yang mungkin menurutnya sudah berubah posisi.
“Sekarang aku sudah bersama teman, atau bisa jadi calon kekasih.” Jawabku menggoda sambil tertawa lepas.
“Hmm gitu ya bang?” timpalnya cepat dengan ekspresi datar.
Begitu polos. Dan aku pun tertawa lebar memecahkan kesunyiaan siang itu.“Kau terlihat begitu takut mendengar ucapanku barusan?” Aku menyelidik. Berusaha membaca mimik wajahnya.
Raisa terdiam, cukup lama. Seketika tawaku terhenti, menggigit bibir. Terlihat ekspresinya begitu serius, antara ada luka dan terbayang-bayang masa lalu. Di saat seperti itu, aku ingin sekali memeluknya. Mencairkan hatinya yang sedang menggumpal setumpuk kesedihan.
Aku tersenyum simpul, “Are you oke?” memasang wajah simpatik.
 “I’m fine, bang.” Balasnya datar, sedikit mengangguk.
Aku membuang nafas perlahan, “Syukurlah, tapi aku tak melihat Raisa di sini. Apa kau telah merenggut Raisa yang dulu. Raisa yang selalu tersenyum tulus? Apa kau bukan Raisa? Hah?” Aku memberondong pertanyaan dengan intonasi pelan, berusaha menjaga perasaannya. Menelangkupkan ke dua tangan di atas meja, sambil terus memandang semburat wajahnya yang terkesan ganjil.
“Maaf bang, sms yang Raisa kirim ke emak itu bohong. Abang pasti sudah membacanya?” Ia memandangku, sayu.
Aku mengangguk pelan,“lantas?”
Giliran Raisa yang membuang nafas, terdengar desisnya kuat. “Raisa belum bisa menggantikan nama Topan di hati Raisa. Topan harusnya jadi milik Raisa selamanya. Tapi….” Ia memutus ucapannya. Terlihat bulir bening keluar dari sudut matanya. “Topan hanya laki-laki kampung bang, menurut keluarga, dia tak pantas untuk Raisa. Dan Raisa ingin dijodohkan.” Ia menunduk, mengakhiri ceritanya.
Aku menelan ludah. Harusnya aku mengenalnya sejak dulu. Sejak pertama kali aku melihatnya, di depan kantor rektor. Mungkin saja dengan begitu, tidak akan ada perjodohan mapun Topan di hatinya. Topan? Laki-laki kampung? Ah! Menurutku itu sudah banyak kisahnya. Laki-laki kampung menikah dengan gadis cantik dan juga lebih tinggi pendidikannya. Asalkan laki-laki itu tanggung jawab dan membuat istrinya bahagia, kenapa harus dipermasalahkan. Dunia ini tak adil. Sedang Tuhan telah menciptakan keduanya bertemu, itulah yang seadil-adilnya.
“Abang, Maaf ya…” Raisa mengangkat wajahnya. Menatapku dengan bulatan mata sayu, merasa bersalah.
“Hmm,, kau berbohong mungkin karena kau terpaksa dan bingung tidak tahu apa yang harus kamu lakukan. Meskipun itu sebenarnya tetap salah.” Aku menangkap kedua bola matanya. “Ya,ya, ya, aku bisa memahami, dan tentu saja aku memaafkanmu.” lanjutku cepat sebelum ia berpikir lain.
Suasana kembali hening. Gerimis di luar terlihat sendu. Membasahi apa saja yang ditimpanya. Membuat jendela kaca mengembun, bisa dibuat ukiran kebahagiaan atau bahkan kesedihan sebagai pelampiasan sesaat. Aku mendesis kuat. Membuang wajah ke luar jendela.
Raisa tertawa samar. “Inilah kebodohanku, bang. Harusnya aku menurut saja dengan perjodohan itu. Tapi, mungkin saja aku tak mampu menjadi istri yang baik karena aku memang tak mencintainya. Dan hanya materi saja yang melimpah di depan mataku, bukan hati kecil ini.” Senyumnya masih terdengar getir.
Aku berusaha membaca apa yang sebenarnya Ia inginkan. Dengan membuat cerita bohong, lewat pesan singkat, di ponselku, itu berarti ia menginginkanku terlibat dalam permasalahannya. Aku mengangguk, berusaha membuatnya tenang. “Apa kau pernah mendengar kisah Siti Nurbaya?” aku sedikit melirik buku di depannya. Raisa mengangguk.
“Siti Nurbaya dijodohkan karena orang tuanya tidak mampu membayar hutang. Dan Nurbayalah yang menjadi jaminannya, menikah dengan Datuk Maringgih yang sudah tua renta.” Raisa mendengarkanku, takzim.
“Dalam masalah ini, kau bukan Siti Nurbaya. Orang tuamu mungkin saja tidak berhutang dengan keluarga calon jodohmu, hanya saja orang tuamu tak ingin kau menyesal dikemudian hari. Hidup dengan laki-laki, maaf, yang belum jelas masa depannya. Emak tak ingin kisah Siti Nurbaya yang dijodohkan karena sebuah hutang menimpa anakmu kelak.” Aku berusaha menjelaskan penuh takzim.
Raisa menarik nafas kuat, lalu membuangnya perlahan.
“Sudah saatnya kau mengambil keputusan. Tidak baik kalau kau hanya mengulur-ulur waktu, sedangkan kau sendiri tak tahu rencana Topan selanjutnya. Apakah Topan akan terus berjuang? Atau hanya akan mengikuti arus yang entah dimana muaranya.” Aku menyandarkan punggung ke kursi, merilekskan badan sambil terus memandang Raisa yang setidaknya terlihat lebih baik.
Suasana berubah khitmad. Hanya terdengar desah nafasku dan juga Raisa.
Raisa melirik jam tangan, “Terima kasih bang, Raisa akan segera mengambil keputusan. Dan sekarang Raisa ada urusan, duluan ya...” sambil bangun dari duduknya.
“Ooh, ya,,” balasku pendek, mengangguk pelan. Ia mengelap kedua sudut mata yang sembab. Lalu pergi, kembali meninggalkanku dalam kesepian.
***
Satu minggu berlalu. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Termasuk diriku. Memburu waktu yang sebentar lagi menggilas perjuangan panjangku. Terlambat satu detik, semua akan sia-sia. Dan aku harus mengeluarkan biaya lagi untuk semester berikutnya.
Namun, tidak. Aku mampu menakhlukkan sang waktu. Satu minggu yang sangat berarti. Semua berjalan seperti yang diharapkan. “Selamat ya Say,” ucapan itu terus membanjiriku siang ini. Tepat setelah aku keluar dari ruang sidang. “Terima kasih kawan,” balasku tulus sambil melempar senyuman paling manis sebagai hadiah untuk mereka yang membantu selama ini.
 “Astaga! Sudah lama aku melupakan Raisa. Dimana dia sekarang?” Tiba-tiba aku teringat gelagat cantik setelah tiada senyuman khas yang terlihat di antara orang-orang yang mengkhadiri persidanganku. Aku segera meninggalkan kerumunan, mencari sosok Raisa.
“Jangan sampai ia memilih perasaannya, tetap teguh bersama Topan. Jangan pula ia menerima perjodohan itu, karena aku lebih baik diantara keduanya.” Gemingku selama menapaki jalan dan ruas-ruas gedung. Aku berlari, memasuki, menelisik setiap ruang perpustakaan. “Ooohh Tuhan! Lagi-lagi aku menjadi laki-laki bodoh untuk urusan hati. Kenapa dari awal aku tak memberinya solusi? Bedebah!” Umpatku kesal. Membanting kepalan tangan ke atas meja, dimana satu minggu yang lalu masih melihat senyum cantik itu di sini. Ya, di kursi ini. Bersama gerimis sendu yang menyatu.
“Ada yang bisa dibantu?”
Suara khas itu terdengar samar.
Aku menoleh ke sumber suara, “Raisa?” Mataku berkaca-kaca. Menatapnya begitu lama, lalu menggeleng tak percaya.
Raisa tertawa lebar. “Abang ini kenapa?” Raisa memanadangku mulai dari ujung kaki hingga kepala. Lalu meletakkan tubuhnya di kursi, sama persis seperti satu minggu yang lalu. Sedang aku masih berdiri mematung, melihatnya seperti siluman yang tiba-tiba muncul tanpa peduli apakah yang disapanya punya riwayat lemah jantung atau tidak. Raisa melihatku tanpa merasa bersalah.
“Aku? Aku takut kehilangamu.” Jawabku jujur. Masih mematung.
“Duduk dulu, bang…!” pintanya, berusaha menenangkanku. Ia menelangkupkan kedua tangannya di atas meja, tertib. Seperti anak-anak SD yang diajar guru paling killerdi sekolahnya.Duduk sedeku, tenang, karena takut.
Untuk sekian kali, aku bernafas lega. Lega sidangku telah usai, dan lega melihat gadis cantik itu kembali menatapku tajam. Aku mengatur nafas, “Aku bingung mencarimu, Rais.” Ucapku setelah merasa tenang.
Raisa tersenyum, “Raisa belum mengambil keputusan, seperti yang abang sarankan seminggu yang lalu.” Ia seolah-olah tahu apa yang aku rasakankan selama ini, dan terutama untuk detik ini.
“Kenapa?” aku memasang wajah terkejut.
“Abang  tau apa yang seharusnya abang lakukan untuk Raisa. Jadi, sebaiknya Raisa menunggu abang, bukan Topan, maupun jodoh siapa namanya Raisa belum tau.” jawabnya dengan ekspresi penuh harap.
 “Hmmm, Apa kau akan menerima keputusanku?”
“Ya, karena itu keputusan Rais juga.” Balasnya yakin.
Aku mengangguk, “Baiklah! Aku bukan Topan, bukan pula jodoh siapa itu, tapi aku Sayuti ingin melamarmu sebagai pendamping hidupku.” Kataku mantap sambil terus menatap kedua sudut mata Raisa yang teduh.Cukup lama aku memandangknya. Raisa hanya terdiam, terpaku.
Aku meraih tangannya, “Aku tak ingin kehilanganmu lagi, walaupun satu detik saja. Apa kau percaya dengan ucapanku?” terus saja memandangnya.
Raisa mengangguk diikuti senyum khas yang mengembang di bibir lembutnya. Lesung pipinya terlihat jelas, kalau Raisa benar-benar tersenyum karena bahagia. “Raisa menerima pinangan abang siang ini dan untuk selamanya.” Suara lembutnya seperti mata air yang bergemerik di sela-sela perbukitan, begitu damai. Dan deretan rak yang mematung di setiap sudut ruang, menjadi saksi bisu, kisah cintaku detik ini dan untuk selamanya. Bibirku menyentuh lembut kedua tangan Raisa. Ooh begitu manis.

***TAMAT***

Ikhah Yuyule
Boyolali, 16 Desember 2013







Sabtu, 21 September 2013

Cinta Kok Sewot(-an)



Sore ini tak terlihat batang hidung si Penceng yang sering jail godain gadis-gadis muda, sepulang dari latihan senam. Gardu samping tempat biasa para awewek senam aerobik, sabtu sore ini terlihat sepi bak penduduk kuburan yang tetkena wabah sariawan.
“Wik! Kenapa lu celingak-celinguk gitu?” gertak Tesi sambil menepuk pundak Wiwik kencang.
“Heit!” sontak Wiwik pasang kuda-kuda.
“Hahaha. Lagak lu kaya si Entong aja!?!” balas Tesi, ngakak.
“Kenapa lu? nggak biasanya lu nyamperin gue? Ha?” tanya wiwik sewot.
“Lu ini nyariin siapa? Celingak-celinguk kaya ayam nyari tarangan aja.”
Wiwik mengatupkan bibir rapat, tanpa sadar raut wajahnya mengelipat, lalu menggaruk-garuk poninya yang lengket karena keringat. “Hmm anu Tes. Cowok-cowok yang suka nongkrong pada kemana ya, kok sepi gitu?”
“Halaaahhh bilang aja lu nyariin Penceng…!!” tebak Tesi sok tau, “hati-hati sama pesona si Penceng. Hihi” lanjutnya menggoda sambil menahan tawa.
“Haduuhh… capek deh! pesona Penceng kaya artis Korea aja.”
“Wow betul itu! Kemarin pas gue jalan ama Momo liat Penceng di lapangan.”
“Emang apa yang lu liat?”
Tesi menghentikan langkahnya. “Lu tau nggak kalo dia jago main bola?”
 “Terus apanya yang menarik?” timpal Wiwik datar tanpa ekspresi.
“Hidung Penceng yang mancung, sisiran rambut klimis, dan tubuh jangkungnya!! Jawab cewek bulet itu rada galak.“ Ya tendangannya lah Wiwiikkkk cantiikkk yang paling demen sewooottt!!” Lanjutnya gemes, sambil geget gigi putihnya.
 “Lah apa hebatnya?” sahut Wiwik tanpa ekspresi.
“Wow. Lu belum liat gimana hebatnya waktu dia nendang bola sih. Mulai dari membidik dengan tatapan yang tajam, lalu menendang dengan kakinya yang kuat. Ciaaattt dan oohh yes. Gooollllllll.!!!!! Wwkwkw.”
“Ah. Menurutku itu biasa aja Tes. Ponakan gue juga bisa,” suara Wiwik masih datar. Sedatar landasan pesawat terbang.
“Eits! Tunggu dulu Wiwik cantik… tendangan penceng itu nggak seburuk namanya. Lu taukan arti penceng itu apa?” kata Tesi meyakinkan.
Wiwik terdiam untuk beberapa saat, “hmm… kata simbah gue, Penceng artinya nggak belak-belok. Iya kan?” jawabnya ragu.
“Nah tu lu juga tau. PENCENG itu Pemuda panCen Ganteng. Wkwkw.”
Kening Wiwik mengerut, membuat ujung alisnya tertaut. “Hah!? ganteng? Sebaiknya lu periksa ke THT deh!” ia menoleh, melihat sobatnya yang tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya yang bulet.
“Kok THT?” tanya Tesi blo’on.
“Iya. Lu tu Tukang Hohong Tiyuuss!!”
“Wwkkwkw.. ganteng bener kok Wik. Kalo diliat, diraba, diterawang dari sedotan pecah.” Tawa Tesi tambah keras. Perutnya yang buncit bergetar naik-turun kaya tukang ngebor jalan beraspal.
Wiwik membuka mulutnya lebar-lebar, “ho-aaaahh…!!! garing luTes.”
“Aaahhh lu ini sewot mulu. Emangnya lagi dapet ya?”
“Iya.”
“Upz!!! Pantesaann….”
“Pantesan apa?”
“Pantesan sewotan, jutekan, manyunan, dan bentar lagi pasti jadi siluman. Hihi.”
“Hahahaa… lu kira gue lagi dapet apa?”
Giliran Tesi yang garuk-garuk kepala, “lah emang dapet apa Wik?”
“Gue lagi dapet ujian dari Tuhan karena punya temen kaya lu. Hahaha.” Ledek Wiwik sebelum berbelok arah.
“Huu kurang ajar lu!” balas Tesi sebelum benar-benar berbelok arah.
Sejak kecil mereka memang akrab. Kemanapun selalu berdua. Namun, semenjak Tesi punya pacar. Kebersamaan mereka terenggut dengan jadwal malam mingguan.
Tiba-tiba mata Wiwik berkedip-kedip seperti kelilipan cowok metropolitan. “Penceng?” gumamnya lirih sambil memusatkan pandangan pada seorang laki-laki yang tengah berdiri di ujung jalan.
“Penceng!!” gertak Wiwik dari belakang.
Pundak Penceng meloncat kecil. “Eh, lu Wik. Tumben baru pulang?”
“Tumben juga lu nggak nongkrong di gardu,” balasnya terdengar kecewa.
“Iya. Barusan Nanang kena mercon. Jadi kita absen nongkrong dulu dah.”
“Hah? Mercon!”
“Wow iya, Wik. Meriangnya Cowok O’on. Hihi.”
“Hu dasar lu! Kirain mercon beneran.” Kembang desa itu meletakkan pantatnya di bahu jalan, dan Penceng pun mengikutinya. Mereka tampak seperti remaja yang baru ngopi darat.
Seketika suasana jadi hening. Wiwik memangku tangannya di atas kedua lututnya yang ditekuk ke atas. Si Penceng pun menutup mulutnya rapat, sesekali melirik gadis yang duduk di sebelahnya. Sekian detik berlalu, mereka hanya saling menelan ludah dan mengatur desah nafas.
“Wiiikkk …” suara Penceng memecah keheningan.
“Heh, ya. Ada apa Ceng?”
“Lu tau nggak kenapa gue nggak lulus sekolah?”
“Lah lu tanya gue, trus gue tanya siapa donk!” balas Wiwik galak.
“Gue nyesel Wik.”
“Ya iyalah. Nyesel tu selalu datang belakangan, coba kalo datang lebih awal itu baru namanya pendaftaran!” lagi-lagi ekspresinya jutek.
“Wuih, muka lu kaya mak lampir gitu. Hahaa.” Ledek Penceng, tertawa.
Wiwik semakin sewot, sambil mengeplak lengan Penceng keras. “Dasar!”
“Gue nggak lulus sekolah hanya ingin liat muka lu kaya mak lampir. Tuu… sumpah. Persis! Wkwkwkw.”
“Halaahhh… kaya mak lampir ntar lu juga suka ma gue!?” goda Wiwik sambil memalingkan muka.
“Iya, suka sekali nona, suka ngledekin. Hihi” masih menahan tawa. “Eh Wik, lu suka nggak ama bunga mawar?”
“Suka, kenapa?”
“Kalo Wiwik suka bunga mawar, Penceng mau deh jadi durinya.”
“Hahaha… lu durinya, gue guntingnya. Biar gue bisa motongin lu..”
“Eitz! Ciyuuzzz?” Penceng tersentak.
“Enelaaann. Gue pangkas habis tu duri biar nggak menusuk hati gue.”
“Aaahh neng Wiwik tega bangeettt…”
“Suka-suka gue lah bang Penceng,” jawabnya ketus. “Udah gue cabut dulu, keburu malam.” Imbuhnya mengakhiri.
“Oohh ya silahkan neng cantiikk…!”
Wiwik meninggalkan Penceng bersama senja yang mulai berganti malam.
***
Malam minggu malam yang asyik buat pacaran. Tembang lawas itu kini terngiang di kepala Wiwik. Sejak putus dengan Sofyan tujuh bulan yang lalu, gadis yang masih duduk di bangku SMA itu sering terlihat murung.
“Dasar buaya buntung! Maunya untung, nggak tahu apa kalo gue lebih beruntung ketimbang pacaran ama lu.” Gerutunya kesal.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Ia segera melangkah, meninggalkan sudut kamarnya.
“Elu Tes. Masuk!”
“Hehe. Lu belum nemuin obatnya ya?”
“Obat apa?”
“Obat buat muka lu tu yang cemberut mulu. Hihi.” Canda Tesi cekikikan.
“Belum Tes. “
“Hahaha. Dasar lu ini. Jangan manyun mulu ah! muka lu cepet keriput kaya kerupuk siput baru tahu rasa.” Timpal Tesi cerewet. “Oiya, lu tahu nggak biar lu cepet dapet pacar?”
“Gue nggak mau asal dapet aja Tes,” suara Wiwik males.
“Aaahh lu ini lemes beud. Gini-gini… gue kasih resepnya biar lu cepet dapat pacar sesuai yang lu inginkan.”
Melihat ekspresi Tesi serius, Wiwik segera mengajaknya masuk ke dalam kamar. Saking penasarannya, ia mencengkeram pundak Tesi, kuat. Kedua wajahnya saling bertaut seperti tentara yang sedang mengatur siasat perang.
“Dengerin! Kalau lu pengen dideketin cowok, lu harus pintar ngelawak, supel, ama kembangin tu bibir lu!” kata Tesi sambil memamerkan senyum maut.
“Heh! Ngelawak?” balas Wiwik diikuti tawa kecut. “Haduh Tes, gue kan bukan pelawak, gue kan pelempuan lugu.” akunya polos.
“Hahhaa. Nah itu dia Wik.”
“Itu dia yang mane maksud lu?”
“Yang barusan lu bilang tadi,.. lucu kok.”
“Jiiiaahhh… standar komedi lu rendah banget Tes. Jayus tau!”
“Hihi. Lu juga sih yang bikin selera makan gue jadi rendah.”
“Loh kok bisa masalah makan lu salahin gue!?”
“Iya, muka sewot lu selalu nampak di piring gue, makanya gue males ngiliat tu piring. Ingin rasanya ngebanting berkeping-keping. Wkwkwk.
“Aisshhh! Bilang aja lu sirik ama body gue. Pake nyalahin gue segala!”
“Hehe. Iya Wik, kasih resep lah biar bisa seksi kaya lu…” rengek Tesi tiba-tiba. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Wiwik, tak sabar.
“Lu senam udah. Bantingin piring juga udah. Hmm… resepnya apa lagi ya Tes…???” Wiwik membanting tubuhnya di atas kasur. Ia menerawang lamat-lamat kamar, tiba-tiba … “a-ha! Gue punya ide. Gimana kalau lu buat si Penceng tergila-gila ama gue dulu, baru nanti gue kasih resep ngurusin badan. Gimana?”
“Wait! Maksud lu, gue jadi makcomblang gitu!? Oooh. No. No. No.”
Wiwik mengangkat bahunya, “terserah lu mau seksi kaya gue ato kagak?”
Raut muka Tesi tampak berpikir. Lalu ikut merebahkan badan di samping sahabat seksinya. “Hmm sebenarnya jomblo itu keren kok Wik.”
“Iya, kerennya karena selalu ada huruf N di belakangnya. Coba kalau N-nya ilang, pasti bakal jadi kere. Betul nggak!?”
“Betul juga lu. Oke gue usahain. Tapi lu harus janji ngasih tau resepnya, awas kalo bo’ong!” Ancam Tesi. Matanya membulat penuh.
“Tenang aja neng, gue nggak bakal bo’ong.”
Tesi mengembangkan bibirnya, lalu melirik jam tangan, “Uke cantik, lu tunggu aja reaksi Penceng! sekarang gue cabut dulu, ada janji ama Momo. Hehe.”
“Iya, tapi ingat, si Penceng jangan sampe tau rahasia ini! Oke?”
“Rebeesss!!” Tesi mulai melangkah keluar.
Dan suasana kembali hening. Malam ini, sebelum rembulan berada tepat di pusar kamarnya, gadis berambut panjang itu segera merapatkan selimut lalu menutup matanya hingga pagi menyapanya kembali.
***
Minggu yang cerah. Radiasi matahari pun siap  menampar jemuran penduduk desa Sanur yang ada di belakang rumah. Dan Tesi, gadis gendut bermata bulat sedang menunggu Penceng di pinggir lapangan.
“Ceng!!” teriak Tesi kencang.
“Hoiii… bentar lagi kelar Tes!”
Setelah membubarkan latihannya, Penceng segera berlari menemui Tesi. “Tumben lu nyamperin gue, ada kabar apa nih?” tanya Penceng ngos-ngosan.
“Pengen liat lu latihan aja Ceng.” Jawab Tesi basa-basi.
“Oohh.” Balas Penceng datar. Ia mengelap keringat yang mengucur deras di lingkar lehernya. Deru nafasnya ikut memburu, membuat tubuhnya naik-turun. “Udah jujur aja, nemuin gue ada urusan apa?” lanjutnya penasaran.
“Hmm seandainya gue belum punya pacar, pasti gue ajak lu nonton bioskop. Tapi berhubung gue uda punya pacar, gue ajakin lu ke…” Tesi memotong ucapannya. Ia menarik nafas kuat lalu menghembuskan perlahan.
“Kemana?” potong Penceng cepat.
“Ke hatinya neng Wiwik… hihi.”
“Hahaa…emang hatinya Wiwik ada apa? atraksi sirkus ato pacuan kuda!?”
“Aaahhh gue beneran Ceeeng..!!!” protes Tesi manyun.
“Buktinya apa!?”
“Nih..!” Tesi menyodorkan lipatan kertas berbentuk daun waru.
Dengan tenang, Penceng membuka kertas yang baru diterimanya.
Teruntuk: Abang Penceng yang paling caem sepelosok negeri.
Ini, adinda Wiwik. Beberapa hari yang lalu, Wiwik mimpiin abang. Saat itu abang menyelamatkan Wiwik dari sergapan musuh. Abang naik kuda, berjubah putih bak pangeran tampan. Seketika itu Wiwik langsung terbangun, tiba-tiba Wiwik inget lagunya ADA band yang judulnya manusia bodoh.
“Aiissshh… apa-apa-an ini!?” protes Penceng memutus bacaannya.
“Ada apa Ceng?” tanya Tesi pura-pura o’on.
“Gak papa.” Penceng kembali melanjutkan.
Kenapa Wiwik inget lagu itu, ya karena abang nggak pake celana.
“Busyet dah! Ni surat cinta ato Suratmin yang suka bikin onar itu.” Umpat Penceng bergeming. Ia kembali melanjutkan.
Di waktu pagi, abang bagaikan mentari pagi yang tertutup bukit. Kala siang merambat, abang bagaikan cahaya rembulan. Dan ketika malam menjemput, pesona abang laksana bintang jatuh yang menjatuhi hati Wiwik.
“Ni anak ngajak berantem, Tes.” Ucap Penceng kesal.
“Berantem gimana?” tanya Tesi dengan nada bodoh. “Udah, kalo ada kata-kata yang ngehina lu, serahkan sama Tuhan, biar Tuhan yang ngebales!” lanjutnya berusaha menenangkan sambil menahan tawa melihat ekspresi Penceng.
“Oohh harus diselesaikan sekarang! Mumpung gue bawa senjata AK-47.”
“Wow. Sekarang!?”
“Mau kapan lagi, keburu digondol anak pak RT. Hihi.”
“Alamaaakkk….” Mulut Tesi melongo sambil geleng-geleng kepala.
 “Ini yang gue tunggu-tunggu Tes. Gue suka ama Wiwik udah lama beud. Sejak lu belum segentong ini. Hahaha.”
“Biarin gue gentong, yang penting hati gue nggak kosong.”
“Iya deh sory ya tong… hihi.”
“Dasar! Ya udah, gue cabut dulu. Tugas gue udah selesai.” Tesi manyun.
“Udah, jangan manyun gitu. Gue kan udah minta maaf. Bagaimana pun juga lu cantik ko, buktinya Momo klepek-klepek ma Lu. Hihi.” Rayu Penceng.
“Aaahh rayuan lu garing.” Balas Tesi jutek.
“Ok. Ati-ati yang neng Tesi cantiikkk….” goda Penceng lagi. Sementara Tesi mulai melengsat, meninggalkan Penceng yang sedang dimabuk cinta.
Pucuk ditiba ulam tiba. Gadis yang membuat hatinya cenat-cenut, tiba-tiba nonggol. Ia keluar dari toko yang ada di pinggir jalan, dekat lapangan.
“Wiwiikk!” teriak Penceng kencang. Dengan nafas ngos-ngosan, ia berlari mendekati gadis seksi seantero negeri itu. “Wik  ntar malam lu ada acara nggak?”
“Enggak.”  Balas Wiwik dingin.
“Kalo ntar malam gue maen ke rumah, boleh nggak?”
“Hmm.. boleh aja. Silahkan!” suara tambah ketus.
“Oke. Terima kasih Wiwik cantiiikkk…!”
“Ya.” Balasnya sambil mengangguk, tanpa membalas senyum Penceng yang selalu mengembang untuknya.
***
Rembulan mengintip penuh selidik. Cahayanya memerah seakan ingin marah. Dan malam ini, Wiwik sedang bersolek di depan cermin. Tubuhnya yang tinggi semampai dengan rambut panjang terurai, dibalut dengan kaos warna biru lembut, disertai celana jeans hitam, seperti bidadari masa kini.
Di tempat lain, Penceng juga sibuk menata penampilan di kamarnya. Sambil senyum-senyum di depan cermin, ia menyisir rambut ala Bambang Pamungkas, sang idola. “Sayaanggg, pangeranmu sebentar lagi datang,” ucapnya berbunga-bunga sambil menggenjot motornya untuk menemui sang pujaan hati.
Penceng mengatur nafas, sebelum mengungkapkan isi hatinya. Jantungnya berdegup kencang. Sekencang Valentino Rossi yang merayap di lintasan sirkuit.
 “Wiikkk….” Panggil Penceng pelan. Ia celingukan di ambang pintu.
“Iya bentaarrr!” balas Wiwik dari dalam kamar.
Mendengar suara pujaan hati, tubuhnya seakan kesetrum listrik ribuan watt. Ia segera membenahi kerah baju, lalu membenahi gaya rambut, naik ke atas.
“Lu Ceng. Ayo silahkan masuk…!”
“Di luar aja Wik, biar bisa melihat bintang-bintang…”
“Oooh, ya udah.”
Mereka mengambil posisi duduk di tengah altar beralaskan kerikil-kerikil. Sambil menikmati milyaran bintang yang bergermelipan di pucuk langit.
“Udah, sekarang lu mau ngomong apa?” tanya Wiwik mengawali. Ia menoleh, melihat paras Penceng yang tak biasa ia lihat sebelumnya.
“Penceng nyesel nggak lulus sekolah Wik. Coba kalo lulus, Penceng bakal kuliah dan ngambil jurusan hukum.”
“Bukane kemarin lu udah bilang ama gue?”
“Iya, tapi penyesalan malam ini lebih parah, Wiikk…”
“Parah gimana?” mata Wiwik mengerut, tak mengerti.
“Penceng pengen banget kuliah ngambil jurusan hukum, karena hati Wiwik telah masuk ke dalam sel hati Penceng.”
“Aiisssshh.. Penceeng.. maksudnya apa ngegombal nggak logis gitu!?”
“Wiwik, sekarang Tesi jadi tukang pos ya?”
“Hmm,” Wiwik terdiam sejenak. “Pasti Tesi nulis surat buat Penceng,” tebaknya dalam hati. “Lu tau darimana kalo dia jadi tukang Pos?” lanjutnya ragu.
“Dia ngirim surat cinta untuk diriku.”
“Alaamaakk… cepat kali si Tesi bertindak.” Gumam Wiwik membatin sambil berusaha stay cool.
“Sejak dulu gue ingin menyatakan perasaan ini, tapi gue ragu sekaligus takut.” lanjut Penceng pelan. Kepalanya menengadah, ke langit. “Gue suka ama lu, Wik.” Imbuhnya menoleh, memandang wajah ayu Wiwik, lekat.
Tubuh Wiwik bergetar, “Ceng, seandainya golongan itu dibagi menjadi dua antara mampu dan tidak mampu, maka gue akan memilih tidak mampu…”
“Loh kok gitu Wik? Apa hubungannya?” muka Penceng menegang.
“Iya, soalnya gue nggak mampu hidup tanpa lu.”
“Aaaahhh… Wiwiikk… kirain ngebanting perasaan Penceng.” Balas Penceng klepek-klepek. “bikin Penceng tambah ke-GR-an nih…”
“Wiwik serius Ceng…, lu sih nggak bisa baca hati Wiwik. Hufh!” raut wajah Wiwik mengerut. Bibirnya manyun kaya ayun-ayun kesepian.
“Haduuhh Penceng sedih deh karna belum bisa baca…”
“Masa Lu belum bisa baca?”
“Ciyuussss… gue belum bisa membaca hati neng Wiwik.”
“Iiihhh… Penceng bisa aja,” jawab Wiwik menahan senyum malu-malu.
“Hmm… mulai sekarang Wiwik panggil Penceng a ak yaa…”
“Trus Penceng panggil Wiwik apa dong?”
“ Penceng panggil Wiwik, e’ek. Hihihi.”
“Huuffhh! Ogah! Emang lu mau kawin ma tu e ek!?” timpal Wiwik cepat.
“Wkwkwk… ya uda panggil mak lampir aja yaa???”
“Iya ntar lu gue cekek, mau?”
“Oohh… boleh sayang, abang rela diapain aja ko…”
“Huuu maunya..!”
“Hehehe… lah Wiwik mau nggak?”
“Hmm… KPK lu…”
“Maksudnya KPK apa sayang?”
“Kamu Punya Aku. Hihi.”
“Aahhh neng Wiwik bisa aja ngegombalnya.” Tangan Penceng meraih tangan Wiwik, menggenggamnya erat. Keduanya saling menatapnya lekat. “Suatu saat nanti, abang pengen Wiwik jadi pendidik..”
“Sejak kecil Wiwik juga ingin sekali jadi guru bang…”
“Iya, abang ingin Wiwik mendidik anak-anak kita nanti. Hihi.”
“Aaahhh abang.” Wiwik tambah tersipu malu.
“Ayah dan ibu pada kemana kok sepi neng?”
“Ayah lagi kondangan, kalo ibu udah tidur.”
“Ooohh…” Penceng mangut-mangut, “Lah Wiwik kemana kok nggak keliatan juga?” imbuhnya sambil celingak-celinguk menoleh ke arah pintu.
“Abang amnesia ya? Wiwik kan sekarang di sini.” Jawabnya kesal.
“Oohh iya lupa. Wiwik kan udah berubah jadi bidadari di samping abang. Hihi”. Penceng kembali menatap kedua sudut mata Wiwik, “Sayang, apa bener sayang nulis surat buat abang?”
Wiwik terdiam, ia melihat tatapan Penceng, menyelidik. “Su-suraattt…?” Penceng mengangguk.
“Oohh iya, surat itu turun dari langit untuk pengeranku di bumi. Hihi”
 “Uuuhh, eneng. Abang makin cinta deh.” Suara Penceng genit. “Tahu nggak apa yang ada dibenak abang setelah membaca surat itu?”
“Emang apa bang?”
“Setelah sekian lama ternyata hidup ini bukan hanya untuk mikirin neng Wiwik, tapi untuk ngelamar eneng..”
“Emang Abang berani bilang ma bonyok?”
“Hmm… Eneng bantu abang ya...!!” pinta Penceng, sedikit ciut.
“Iya, ntar Wiwik bantu tepuk tangan ya bang...”
“Aahh eneng ko gitu siihh… kaya pak Tarno aja.”
“Hehe. Iya, eneng pengen abang jadi pak Tarno. Biar abang bisa terus menepuk-nepuk hati eneng.”
“Iiiihh..abang jadi gemes nih.” Penceng mencubit pipi Wiwik, genit. “Oiya Neng, coba liat bintang itu!” Penceng menunjuk satu bintang yang paling cerah.
“Iya bang. Ada apa dengan bintang itu?”
“Ada senyum eneng di sana… manis, bikin mata abang merem- melek.”
“Yeeyy senyum Wiwik kan di sini bang…”
“Iya sayang,.. senyum Wiwik di hati abang.” Balas penceng sambil memegang dadanya dan memandang Wiwik dengan senyum mesra.
“Wiikkk…!!!” teriak Tesi dari pinggir jalan.
Seketika keduanya menoleh ke sumber suara. “Tesi? Ganggu aja nih bom molotof.” Bisik Penceng pelan. Mereka melihat Tesi berjalan menghampiri.
“Cieee lagi romantis-romantisan nih.”
“Iya, lu tu perusak suasana aja!” umpat Penceng sebel.
“Haduuhh… Penceng sayang,.. harusnya lu berterima kasih ma gue…”
“Iya, maksih… cepet pergi sana!” jawab Penceng cepat.
“Hahaa…Wiwik cantik,.. gue ingiinn…” Tesi melirik sahabat kecilnya.
“Ada apa Mit?” tanya Wiwik pura-pura blo’on.
“Hehe. Anu… gue pengen lu kasih tahu resep kenapa lu bisa langsing.”
Dengan gaya juteknya, “Lu putusin si Momo, ntar lu bisa seksi kaya gue!”
“Jiiaaahh.. itu bukan resep atuh neng. Itu malapetaka.” balas Tesi manyun.
“Iya, gue seksi kan karena diputus Sofyan. Itu resepnya, cantiiikk..! Hihi.”
Sontak Penceng tertawa lebar.
“Harusnya lu bersyukur Tes, udah dapet si Momo yang mau nerima lu apa adanya.” Lanjut Wiwik bijak.
“Heheheee… iya ya Wik.”
Wiwik dan Penceng sontak tertawa melihat sahabat gendutnya kluget-gluget kaya ulet, menahan malu. Dan malam itu berakhir dengan tawa lepas antara sepasang sejoli bersama seorang sahabat karib. Semilir angin malam pun ikut tertawa menyibak rambut-rambut mereka yang penuh dengan suka cita. TAMAT.
Jule at boyolali